alamanda.blogspot.com is proudly powered by Blogger
Template Design by Didats Triadi
9 tahun lalu
Wednesday, April 11, 2007

waktu aku masih berusia 18 tahun, masih muda belia, segar, innocent dan ranum seperti bunga yang baru saja mekar -halah-halah..., karena permintaan Papa, yang nggak bisa kutolak, aku ikut tes seleksi untuk masuk STPDN. waktu itu alasan yang dipakai adalah kalau sekolah disana, setelah lulus nggak akan bingung mencari pekerjaan karena sudah langsung ditempatkan. kedengarannya memang seperti sebuah sekolah bermasa depan cerah, yang nggak ada duanya deh, pokoknya paling oke.
akunya sendiri waktu itu hanya mikir, sebisa mungkin aku sekolah di sekolah negeri. soalnya kalo sekolah di swasta, orangtuaku pasti nggak akan sanggup membiayai, bow. itu udah jelas. dan sekolah negeri itu juga bukan di Jakarta. biaya hidup dan ongkos pergaulannya pasti kan mahal sekali.
maka dengan berbagai pertimbangan itu aku setuju ikutan tes sebagai salah satu alternatif. kalau-kalau nggak lolos UMPTN.
pada hari tes, aku merasa aneh karena ujian pertama dan paling dasar itu semuanya serba fisik. sejak kecil aku selalu merasa nggak nyaman kalau dihadapkan sama hal-hal seperti ini karena aku merasa aku emang nggak bertubuh proporsional. aku merasa seperti sedang 'ditelanjangi' dengan tes yang mengharuskan pake celana pendek, lari-lari ditonton sama orang banyak, disuit-suitin sama peserta tes yang laki-laki, dikomentarin sama bapak-bapak gendut berkumis berseragam yang kayaknya sipil tentara. duh! sekolah apa sih ini?
aku yakin kalau tesnya dimulai dengan tes tertulis soal pengetahuan dasar dan pengetahuan umum, aku akan lulus.
sampai di rumah aku tanya sama Papa kenapa tesnya nggak mulai dari kemampuan dalam bidang ilmu pengetahuan, kalo emang buat sekolah. kenapa nggak dicari aja orang yang pinter dulu, baru yang bisa lari atau yang berat badannya proporsional sama tinggi badannya. kan nyari yang pinter lebih susah daripada yang berat badannya seimbang?
waktu lihat gambar diatas itu tuh...
aku jadi sangat bersyukur dulu gagal masuk STPDN.
a chef of design
Sunday, April 08, 2007
Martin Conreen is a lecturer at the Design Department of Goldsmiths College, University of London. His posture reflects his appetite of good food and exotic cuisines from all over the world. My first impression of him was "This guy is wearing a shocking pink shirt. Oh my god" I hope my mind didn't sound like Janice back then. I worked with him for several days last month during his scoping visit to Bali with the British Council.
On our way to the Ubud wet market one chilly morning, he told me how he opened a vegan restaurant once. I'm sure he is talented and sees cooking as an important career, because he's still cooking for his family and friends until now. He's seriously obsessed with cooking so that he has two different refrigerators at home. One for vegan supplies and the other one for non-vegan. Part of the obsession is to make dishes that suitable for the consumer. This is all about the challenge. Imagine yourself cooking for an ultranationalist vegan who wants a vegan dish that made without any single ingredients from 17 countries that she believes violate the universal rights, both to human and animal.
What will he make on such request? Watermelon Curry.
He has done an amazing research on material, made him the only professor who pursue that specialisation. I'm strange, he exclaimed about this. And I was wow-ing the whole time he explained about several unbeliable but existing materials such as a wafer that cuts ice like butter, or a metal that remember its shape. When I asked him how can he get access to those materials. Gleefully he said, you have to hang out with scientists.
If you meet him, don't be surprised to see how energetic he is. He has a constant flowing energy from early morning until midnight. An early person by habit, he's the only charming fellow at 7 o'clock in our groups. And its amazing to see him, with the same spirit, at 11 pm, after dinner and meeting with designers.
On top of everything, he thinks Thomas Heatherwick is cool and maybe, just maybe, if I ever land my feet on the United Kingdom ground, Martin can introduce me to him. And I'll be flying to the stars in ecstasy if Thomas Heatherwick agrees to hire me even if only to make coffee. I'm good at making coffee. I know.
On our way to the Ubud wet market one chilly morning, he told me how he opened a vegan restaurant once. I'm sure he is talented and sees cooking as an important career, because he's still cooking for his family and friends until now. He's seriously obsessed with cooking so that he has two different refrigerators at home. One for vegan supplies and the other one for non-vegan. Part of the obsession is to make dishes that suitable for the consumer. This is all about the challenge. Imagine yourself cooking for an ultranationalist vegan who wants a vegan dish that made without any single ingredients from 17 countries that she believes violate the universal rights, both to human and animal.
What will he make on such request? Watermelon Curry.
He has done an amazing research on material, made him the only professor who pursue that specialisation. I'm strange, he exclaimed about this. And I was wow-ing the whole time he explained about several unbeliable but existing materials such as a wafer that cuts ice like butter, or a metal that remember its shape. When I asked him how can he get access to those materials. Gleefully he said, you have to hang out with scientists.
If you meet him, don't be surprised to see how energetic he is. He has a constant flowing energy from early morning until midnight. An early person by habit, he's the only charming fellow at 7 o'clock in our groups. And its amazing to see him, with the same spirit, at 11 pm, after dinner and meeting with designers.
On top of everything, he thinks Thomas Heatherwick is cool and maybe, just maybe, if I ever land my feet on the United Kingdom ground, Martin can introduce me to him. And I'll be flying to the stars in ecstasy if Thomas Heatherwick agrees to hire me even if only to make coffee. I'm good at making coffee. I know.
bule hunter
Tuesday, April 03, 2007
beberapa diantara teman-teman yang membaca blog ini mungkin sempat melihat pesan-pesan yang masuk ke shoutbox. ada blogwalker yang bercerita adiknya, seorang perempuan Jawa yang pergi berlibur ke Bali bersama suaminya, seorang kulit putih, merasa dilihat seperti perempuan murahan, alias pekerja seks, alias perempuan serba bisa diapa-apain.
aku harap jawabanku pada blogwalker itu cukup netral dan tidak memihak. sejujurnya, stigma yang ditempelkan pada pandangan yang nggak enak itu berkali-kali kualami selama tinggal di Bali. tidak sering, tapi cukup mengganggu. anggapan umum yang berlaku adalah: perempuan Jawa, berkulit gelap, datang ke Bali untuk mengejar laki-laki kulit putih supaya nasibnya jadi lebih baik. ada tiga dasar yang dipakai untuk anggapan ini. pertama, karena yang berkulit gelap lebih eksotis dan lebih disukai pria-pria kulit putih. kedua, karena perempuan Jawa lebih agresif. dan ketiga, karena pria-pria kulit putih punya uang lebih banyak.
karena itulah, selama tinggal di Bali, aku berusaha keras menjaga supaya kulitku tidak jadi cokelat gelap. dalam cuaca Bali yang panas menyengat aku selalu memakai jaket, sarung tangan dan segala perlengkapan penutup tubuh kalau keluar rumah. aku tidak mau dipandang dengan cap yang buruk itu. disisi lain, ada pria-pria kulit putih yang ganteng tapi menganggap lalu lintas di Indonesia terlalu membahayakan keselamatan jiwa kalau mereka memaksa menyetir di sini. mereka biasanya naik sepeda kemana-mana, dan bikin para pemburu bule mencoret mereka dari daftar buruan. karena hanya mereka yang nggak punya duit yang keringetan naik sepeda. mungkin begitu mikirnya.
tapi toh stigma tetap stigma. diberlakukan umum tanpa batasan. walaupun kerjaku resminya selama matahari terbit, chatting dan ngejunk di komputer, menemui orang-orang yang mau mendengarkan bualan setinggi langit tentang seni dan kebudayaan Indonesia, melihat-lihat sawah dan menghitung pohon kelapa, serta mendownload lagu... dan bukannya menyanyi di kafe atau menari striptease, tapi tetap saja stigma itu tak bisa kuelakkan. penjelasan sepanjang apapun seringkali nggak cukup untuk menghapus stigma yang terlanjur melekat.
ada sejumlah kejadian (yang tidak perlu kuceritakan disini) yang kualami selama aku tinggal di Bali. salah satu diantara kejadian itu begitu menyakitkan sampai aku sempat berniat mengirimkan sepasukan ninja terlatih yang dipersenjatai jarum beracun dan samurai tajam mengkilat untuk menghabisi orang yang jahat itu. tapi orang itu beruntung dan kayaknya masih hidup sampai sekarang. aku bahkan membatalkan rencana untuk menggunakan Pedang Setan untuk menebas lehernya.
*minum tonik peredam kemarahan*
nah, tadi malam aku, Kelly dan Scott ngopi sama Joely sebelum dia berangkat ke bandara untuk pulang ke San Francisco. persis pada saat latte-nya Joel habis, sopir yang akan mengantarkannya datang. karena Scott dan Kelly adalah langganannya juga, jadi dia turun dari mobil untuk menyapa mereka. Joel lalu memperkenalkan aku pada sopir itu.
"Halo, saya Ina" kataku sambil mengulurkan tangan.
"Saya Gede" dia tersenyum padaku. aku balas tersenyum. lalu dia bertanya
"Dari Jawa ya?" aku tersenyum lagi padanya, lalu menjawab
"Iya, saya dari Malang"
tiba-tiba Kelly mencampuri percakapan kami dan bilang
"Ina disini kerjanya cuma cari bule saja" aku, Scott dan Joel tertawa mendengar si kepala suku bule gondrong angkat bicara. itulah akhir percakapanku dengan Gede. he got all of the answers he needed.
aku harap jawabanku pada blogwalker itu cukup netral dan tidak memihak. sejujurnya, stigma yang ditempelkan pada pandangan yang nggak enak itu berkali-kali kualami selama tinggal di Bali. tidak sering, tapi cukup mengganggu. anggapan umum yang berlaku adalah: perempuan Jawa, berkulit gelap, datang ke Bali untuk mengejar laki-laki kulit putih supaya nasibnya jadi lebih baik. ada tiga dasar yang dipakai untuk anggapan ini. pertama, karena yang berkulit gelap lebih eksotis dan lebih disukai pria-pria kulit putih. kedua, karena perempuan Jawa lebih agresif. dan ketiga, karena pria-pria kulit putih punya uang lebih banyak.
karena itulah, selama tinggal di Bali, aku berusaha keras menjaga supaya kulitku tidak jadi cokelat gelap. dalam cuaca Bali yang panas menyengat aku selalu memakai jaket, sarung tangan dan segala perlengkapan penutup tubuh kalau keluar rumah. aku tidak mau dipandang dengan cap yang buruk itu. disisi lain, ada pria-pria kulit putih yang ganteng tapi menganggap lalu lintas di Indonesia terlalu membahayakan keselamatan jiwa kalau mereka memaksa menyetir di sini. mereka biasanya naik sepeda kemana-mana, dan bikin para pemburu bule mencoret mereka dari daftar buruan. karena hanya mereka yang nggak punya duit yang keringetan naik sepeda. mungkin begitu mikirnya.
tapi toh stigma tetap stigma. diberlakukan umum tanpa batasan. walaupun kerjaku resminya selama matahari terbit, chatting dan ngejunk di komputer, menemui orang-orang yang mau mendengarkan bualan setinggi langit tentang seni dan kebudayaan Indonesia, melihat-lihat sawah dan menghitung pohon kelapa, serta mendownload lagu... dan bukannya menyanyi di kafe atau menari striptease, tapi tetap saja stigma itu tak bisa kuelakkan. penjelasan sepanjang apapun seringkali nggak cukup untuk menghapus stigma yang terlanjur melekat.
ada sejumlah kejadian (yang tidak perlu kuceritakan disini) yang kualami selama aku tinggal di Bali. salah satu diantara kejadian itu begitu menyakitkan sampai aku sempat berniat mengirimkan sepasukan ninja terlatih yang dipersenjatai jarum beracun dan samurai tajam mengkilat untuk menghabisi orang yang jahat itu. tapi orang itu beruntung dan kayaknya masih hidup sampai sekarang. aku bahkan membatalkan rencana untuk menggunakan Pedang Setan untuk menebas lehernya.
*minum tonik peredam kemarahan*
nah, tadi malam aku, Kelly dan Scott ngopi sama Joely sebelum dia berangkat ke bandara untuk pulang ke San Francisco. persis pada saat latte-nya Joel habis, sopir yang akan mengantarkannya datang. karena Scott dan Kelly adalah langganannya juga, jadi dia turun dari mobil untuk menyapa mereka. Joel lalu memperkenalkan aku pada sopir itu.
"Halo, saya Ina" kataku sambil mengulurkan tangan.
"Saya Gede" dia tersenyum padaku. aku balas tersenyum. lalu dia bertanya
"Dari Jawa ya?" aku tersenyum lagi padanya, lalu menjawab
"Iya, saya dari Malang"
tiba-tiba Kelly mencampuri percakapan kami dan bilang
"Ina disini kerjanya cuma cari bule saja" aku, Scott dan Joel tertawa mendengar si kepala suku bule gondrong angkat bicara. itulah akhir percakapanku dengan Gede. he got all of the answers he needed.
Last posts
Archives
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- June 2007
- July 2007
- August 2007
- September 2007
- October 2007
- November 2007
- December 2007
- January 2008
- February 2008
- March 2008
- April 2008
- May 2008
- June 2008
- July 2008
- August 2008
- September 2008
- October 2008
- November 2008
- December 2008
- January 2009
- February 2009
- March 2009
- April 2009
- May 2009
- June 2009
- July 2009
- August 2009
- September 2009
- October 2009
- November 2009
- December 2009
- January 2010
- February 2010
- March 2010
- May 2010
- January 2011
- April 2011
- May 2011
- June 2011
- October 2011
- November 2011
- May 2012
- October 2012
- March 2013
- April 2013

